click here ^_^

Labels

riang selalu ^_^

Thursday, 7 November 2013

Tanggungjawab seorang muslim



Tanggungjawab muslim sebenarnya telah digariskan dalam oleh Allah Taala dalam sepoting ayat dan kemudian diulangi beberapa kali pada ayat-ayat yang lain dalam al-Quran. Ayat yang menggariskan peranan umat Islam dalam kehidupan ini ialah firman Allah Taala:

alhajj77.jpg

alhajj78.jpg
Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah serta sujudlah (mengerjakan solat), dan beribadatlah kepada Tuhan kamu (dengan mentauhidkan-Nya), serta kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, Dial ah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan agama-Nya); dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama, agama bapa kamu Ibrahim. Dia menamakan kamu: “Orang-orang Islam” semenjak dahulu dan dalam (al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang member keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah). Oleh itu, dirikanlah solat, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dialah Pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifatnya) Dialah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pemberi pertolongan. (al-Hajj: 77-78)

Ungkapan yang cukup jelas, tiada kekeliruan dan tiada kekaburan. Demi Allah, ungkapan ini amat indah dan menarik. Apakah umat Islam tidak pernah mendengarnya atau mereka pernah mendengarnya tetapi hati mereka terkunci? Oleh kerana itu mereka tidak pernah menyedarinya?

Allah memerintahkan umat Islam agar rukuk, sujud dan mendirikan solat yang merupakan induk ibadah, tiang agama Islam dan imej Islam yang paling ketara. Allah memerintahkan mereka agar menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Mereka hendaklah melakukan kebaikan menurut kemampuan mereka. Di samping itu Allah juga memerintahkan mereka melakukan kebaikan dan melarang melakukan kejahatan. Kebaikan pertama yang perlu dilakukan ialah dengan tidak melakukan kejahatan. Suatu ungkapan yang ringkas dan padat. Setelah itu Allah berikan jaminan bahawa mereka akan memperolehi kejayaan. Inilah tanggungjawab individu bagi setiap muslim yang perlu dilakukannya sendiri samada secara berseorangan atau berkumpulan.
Setelah itu Allah perintahkan mereka supaya berjuang di jalan Allah dengan bersungguh-sungguh demi mengembangkan dakwah ini kepada seluruh manusia dengan hujah yang mantap. Jika manusia enggan menerima sebaliknya membalasnya dengan tindakan kejam dan zalim barulah digunakan kekuatan senjata:

“Tika manusia menzalimi kebenaran dan engkar
Perang adalah jalan utama di dunia ini bukan lagi keamanan”

Alangkah tepat sekali kata hikmah yang menyebut: Kekuatan adalah cara paling selamat untuk menegakkan kebenaran. Alangkah baiknya jika kekuatan dan kebenaran berjalan seiringan.”
Jihad bagi mengembangkan dakwah Islam terutama bagi memelihara kesucian Islam adalah suatu kawajipan yang diletakkan oleh Allah ke bahu umat Islam sama sepertimana Allah mewajibkan mereka solat, puasa, zakat, haji, membuat kebaikan dan menjauhi kejahatan. Allah mewajibkan dan juga menggalakkan mereka memiliki kekuatan dan kemampuan. Ayat yang menyebut perintah ini datang dengan amaran yang cukup keras dan suatu nasihat yang perlu diberikan perhatian.
altaubah41.jpg
Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), samada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam). Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (at-Taubah: 41)

Allah telah mendedahkan rahsia di sebalik segala perintah dalam kewajipan ini kepada umat Islam. Allah jelaskan bahawa Dia memilih mereka supaya menjadi peneraju manusia, pemelihara syariat-Nya, menjadi wakil-Nya di bumi ini dan sebagai pewaris Rasulullah s.a.w. memikul dakwah baginda. Allah telah bentangkan kepada mereka agama ini. Allah telah memantapkan syariat-Nya, memudahkan segala hokum-hakam-Nya dan menjadikan hokum-hakam ini sesuai untuk semua zaman dan tempat supaya ia boleh diterima oleh seluruh manusia. Melalui syariat ini manusia akan meletakkan segala harapan dan impian yang mereka nantikan.
Inilah tanggungjawan sosial yang telah diserahaln oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Mereka hendaklah berada dalam satu barisan, satu ketumbukan dan satu kekuatan. Mereka hendaklah menjadi tentera penyelamat yang akan menyelamatkan seluruh manusia dan membimbing mereka ke arah jalan yang betul.
Selepas itu Allah Taala menjelaskan hubungan antara perintah solat dan puasa dengan perintah social tadi di mana perintah pertama adalah sebagai langkah awal untuk perintah kedua. Akidah yang sahih pula adalah asas untuk kedua-dua perintah. Tujuannya, supaya manusia tidak menjadi perintah tadi sebagai alasan untuk tidak melakukan kewajipan individu mereka dengan alasan mereka telah beramal untuk semua manusia. Dalam masa yang sama ia tidak menjadi alasan kepada manusia lain untuk tidak berbakti kepada semua manusia dengan alasan mereka sibuk dengan ibadah mereka dan menghabiskan sepenuh masa menghadap Tuhan. Bukankah ayat ini tepat dan bijaksana.
annisa87part.jpg
Dan siapakah pula yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (an-Nisa’: 87)

Wahai umat islam, mengabdikan diri kepada Tuhan kamu dan berjihad demi memartabatkan agama dan syariat kamu adalah tanggungjawab kau dalam hidup ini. Jika kamu telah menunaikan tanggungjawab ini dengan bersungguh-sungguh, kamu adalah golongan yang beroleh kejayaan. Jika kamu hanya laksanakan separuh atau kamu abaikannya sama sekali perhatikanlah firman Allah Taala:

almukminun115.jpg
almukminun116.jpg
Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu (dari tiada kepada ada) sahaja dengan tiada sebarang hikmat pada ciptaan itu? Dan kamu (menyangka pula) tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka (dengan yang demikian) Maha Tinggilah Allah Yang Menguasai seluruh alam; tidaj ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) Arasy yang mulia (Al-Mukminun: 115-116)

Saturday, 2 November 2013

Hubungan Antara Iman dengan Ibadah



 Iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan serta mengamalkan dengan perbuatan. Yang dimaksud membenarkan dengan hati yaitu mempercayai dan menyakini segala yang dibawa oleh Rasulullah. Yang dimaksud dengan mengikrarkan dengan lisan adalah mengucap dengan dua kalimah syahadat. Sedangkan maksud dari mengamalkan dengan perbuatan yaitu hatimengamalkan dalam bentuk keyakinan dan badan mengamalkan dalam bentuk ibadah. Jika syarat-syarat diatas terpenuhi maka seseorang akan dikatakan mukmin.


    Ibadah berasal dari kata ‘abd  secara bahasa berarti “hamba sahaya”. Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa ibadah mengandung ciri-ciri kekokohan dan kelemah lembutan, maksudnya pelaksanaan ibadah harus diiringi oleh kesetiaan yang kuat dan kehalusan. Secara bahasa ibadah diartikan sebagai penyembahan, pengabdian, dan ketaatan.


    Hubungan iman dan ibadah adalah sejauh mana keimanan dapat mempengaruhi ibadah dan etika atau moral dan sebaliknya. Keimanan atau akidah adalah fondasi dari semua ajaran islam, yaitu akidah, syariah dan akhlak.


    Seseorang yang telah beriman atau berakidah harus mengimplentasikan keimanannya dengan syariah yaitu beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan sesama manusia dan alam sekitar.
    Akidah diwujudkan dalam pengucapan dua kalimat syahadat, diimani, diyakini, dan dibenarkan dalam hatinya. Sebagai wujud keimanannya kepada Allah, dia harus melaksanakan syariah berupa ibadah madhah dan ibadah muamalah ghairu madhah. Yang mana ibadah nadhah artinya penghambaan yang murni merupakan hubunga antara hamba dengan Allah secara langsung seperti : menjalankan ibadah sholat. Sedangkan ibadah muamalah ghairu madhah artinya segala amaln yang diizinkan oleh Allah, misalnya ibadah ghairu madhah ialah belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya.


    Orang yang beriman disebut mukmin. Sedangkan seorang mukmin yang telah melakukan ibadah dan melakukan muamalah disebut muslim. Seorang mukmin belum dikatakan muslim apabila dia belum melaksanakan ibadah, baik ibadah mahdah maupun ibadah ghairu mahdah. Keimanan dan keislaman seseorang harus dilengkapi dengan ibadah dalam rukun islam yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji (bagi yang mampu).


    Iman dengan ibadah juga memiliki hubungan kasualitas (sebab-akibat). Kualitas iman seseorang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ibadah orang tersebut. Makin tinggi kualitas ibadah seseorang(misal : shalat makin khusu’, mengurangi atau menghilangkan syirik kepada Allah ). Dan kuantitasnya (misal : menambah shalat wajib dengan dan shalt sunnah, banyak bershadaqah) akan menambah dan mempertebal iman seseorang, makin mengurangi dan mempertipis, bahkan dapat menghilangkan kualitas seseorang kepada Allah Swt.


    Pelaksanaan ibadah yang yang di landasi iman yang kuat memberikan impak yang postif terhadap sikap dan perilaku seorang muslim.
Allah berfirman :

    Artinya:
“bacalah apa yang telah di wahyukan kepadamu yaitu alkitab(al-qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih  besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut 45)

    Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan dan mendorong pelakunya untuk dapat menghindarinya. Dengan keimanan seseorang akan tunduk dan patuh pada aturan-aturan Allah Swt.
  

  Dengan demikian sesungguhnya sangat erat hubungan dan saling mempengaruhi antara iman dengan ibadah kepada Allah Swt.
Adapun contoh-contoh amalan hubungan antara iman dengan ibadah :
a)    Dzikir
        Dzikir menurut bahasa arab (bahasa yang digunakan dalam al-qur’an)    berarti mengingat/menyebut. Dzikir sendiri terbagi menjadi dua yaitu dzikir lisan dan dzikir dalam hati. Firman Allah :

Artinya:
    “Maka makanlah apa yang ditangkap untukmu dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah sngat cepat perhitungan-Nya. (Al-Maidah : 4)
       
b)    Tawakal
    Sebagai seorang muslim hendaknya hendaknya selalu berserah diri kepada Allah (berkhojtawakal).
Firman Allah pada surat Yunus : 84

Yang artinya :
“Dan Musa berkata :wahai kaumku apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang muslim.       


c)    Syukur
    Syukur adalah salah satu buah keimanan, bila seseorang hamba allah berbuat baik kepada anda lalu anda tidak berterima kasih kepadanya berarti anda telah bersikap buruk kepadanya. Padahal hamba tersebut hanya perantara, sedangkan pemberian sejati hanyalah Allah.
Firman Allah :
ومن شكر  فانما يشكر لنفسه ومن كفر فان ربي غني كريم. ( النمل :
۴)                
Artinya :
“Baramg siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa ingkar maka sesungguhnya Allah maha kaya, maha melihat.(An-Naml : 4)

d)    Sabar
    Seorang muslim berada diantara dua nikmat yaitu bila ia ditimpa kebaikan lalu bersyukur maka ia akan memperoleh pahala dan apabila ditimpa musibah lalu bersabar maka ia akn memperoleh pahala.
Firman Allah :
ما عندكم ينفدوما عندالله باق ولنجزينالذين صبروا اجرهم بااحسن ما كانوا يعملون (النحل :
۹۶)                                                                                                          
Artinya :
“Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl :96/)

Monday, 28 October 2013

Punca individu melakukan maksiat menurut Imam al-Ghazali




Setiap hamba Allah S.W.T yang hidup di dunia ini tidak akan terlepas dari melakukan dosa sama ada kecil mahupun besar. Ini kerana sifat semula jadi manusia yang lemah dan mudah tunduk kepada hawa nafsu. Tetapi ini bukanlah alasan kerana orang yang beriman kepada Allah S.W.T akan patuh dan taat kepada perintahnya serta akan sentiasa berusaha menjauhkan diri daripada tuntutan hawa nafsu yang membawa kepada dosa dan maksiat.

Imam al-Ghazali mengatakan bahawa dosa itu berlaku kerana dorongan pleh empat perkara:-

(a) Sifat Rububiyah ( sifat ketuhanan) iaitu apabila seseorang itu mengambil sifat-sifat tuhan untuk dipakai pada dirinya seperti takbur, suka disanjung dan dipuji. Sifat ini hanya layak bagi Allah S.W.T.

(b) Sifat Syaitaniyah ( sifat syaitan) iaitu apabila seseorang itu ada sifat-sifat hasad dengki, tipu helah, aniaya dan lain-lain kerana sifat ini boleh mendorong kepada perbuatan mungkar, maksiat dan menyesatkan.

(c) Sifat Bahimiah (sifat kebinatangan) seperti tamak haloba, memakan harta anak yatim, mencari harta kekayaan semata-mata untuk memuaskan nafsu buas dan lain-lain.

(d) Sifat-sifat Subu'iyah (sifat kebuasan) seperti marah, dendam, mencaci orang, memukul, membunuh, memusnahkan harta benda dan lain-lain lagi.

Ibadah Puasa untuk Meningkatkan ketaqwaan



Ibadah Puasa untuk Meningkatkan ketaqwaan

Tujuan utama dari ibadah puasa adalah memantapkan keimanan kepada Allah SWT sehingga keimanan itu menjelma menjadi ketaqwaan. Ini dikemukakan Allah dalam firman-Nya pada surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu:

“Hai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” .

Apabila target dari ibadah puasa ini dapat dicapai, maka ibadah puasa akan membuat kita menjadi orang yang memiliki tiga hal, yaitu:


1-Pertama mencegah diri dari segala bentuk dusta sebab dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dan Ahmad yang artinya sebagai berikut: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji dan melakukan kejahatan Allah tidak akan menerima puasanya sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” Berarti, dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa Allah SWT tidak menerima puasa seseorang yang tidak meninggalkan perkataan dusta.


2-Kedua memiliki benteng pertahanan rohani yang kuat sehingga dia menjadi orang yang mampu menjaga dan mencegah dirinya dari dosa. Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya seseorang di antara kamu dalam perang.” .


3-Ketiga selalu terangsang untuk berbuat baik karena ibadah Ramadhan memang selalu mendidik seseorang untuk melakukan kebaikan, baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia.


Menurut hal-hal yang telah ditulis di atas, nilai ibadah puasa sangatlah penting karena dengan ibadah puasa kita dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Sunday, 27 October 2013

Kesan pemakanan melampau





Pemakanan secara melampau adalah sesuatu yang dicela di dalam islam. Ini kerana ianya memberikan kesan yang buruk kepada individu tersebut. Antara kesan pemakanan melampau adalah seperti berikut :-

a) Penghadaman tidak sempurna dan terbantut. Penghadaman yang tidak sempurna boleh menghasilkan toksimia yang akan menjadi sebab utama kepada penyakit jasmani.

b) Menzahirkan jenis-jenis penyakit apabila toksin mula di buang oleh badan seperti muntah, cirit-birit dan lain-lain.

c) Sekiranya makanan yang diambil mengandungi banyak logam berat seperti plumbum yang boleh menyerap masuk de dalam tisu yang lembut, ini akan menimbulkan masalah yang lebih besar terhadap kesihatan badan. Ini akan mengakibatkan timbulnya penyakit seperti berlakunya radang otot dan sendi dengan nama lain rheumatism, sakit buah pinggang, lelah, gout iaiti penyakit yang menyababkan sendi menjadi bengkak, hati tidak dapat membantu penghadaman makanan dan sakit perut disebabkan penghadaman makanan yang tidak sempurna.

d) Menurut Imam al-Ghazali, pengambilan makanan yang berlebihan boleh mengakibatkan hati sukar menerima sesuatu perkara yang baik iaitu buta mata hati. Ini akan menyebabkan otak menjadi tumpul dan melemahkan kecerdasan berfikir juga akhirnya akan menyebabkan penyakit pelupa.

e) Menurut Dr. Henry Bieler, punca utama penyakit bukannya disebabkan oleh kuman tetapi disebabkan oleh toksimia. Toksimia yang terhasil akan menyebabkan kerosakan sel-sel dan ini menyumbang kepada pembiakan kuman dan serangan badan.

f) Kajian lain yang mendapati mereka yang makan terlalu banyak akan menyebabkan berat badan yang berlebihan dan ini memdorong kearah penyakit artritis, kencing manis, penyakit jantung dan juga kanser.

g) Menurut Dr. Issels dalam kajiannya bahawa binatang yang diberi makanan semahunya mempunyai 5.3 kali ganda lebih besar tumor daripada binatang yang berpuasa pada setiap hari kedua (iaitu hari pertama makan dan hari kedua berpuasa)


rujukan
* Che wan jasimah wan mohamed rezi (2000) , Konsep kesihatan melalui pemakanan, Pendekatan islam dan sains, Kuala lumpur. Utusan Publications & Distributors Sdn. Bhd.

Saturday, 26 October 2013

CABARAN-CABARAN PEMBENTUKAN AKHLAK



 
 

cabaran yang menjadi penghalang dalam pembentukan akhlak ini terdiri daripada cabaran dalaman dan luaran.

 Cabaran dalaman iaitu melalui serangan pemikiran seperti apa yang telah dilakukan oleh orang Barat dalam mempengaruhi pemikiran umat Islam dengan mengakatakan bahawa tidak ada agama yang berperanan dalam memperbaiki atau mengubah tamadun. Manakala melalui syaitan dan hawa nafsu pula ialah hasutan atau godaan daripada syaitan yang menghalang manusia untuk membentuk akhlak yang mulia dengan menghasut untuk melakukan sebarang bentuk kejahatan. Akhir sekali, lemahnya jiwa merupakan cabaran yang paling besar kerana apabila manusia dilanda kelemahan iman, ia akan mudah terjerumus ke dalam konteks dosa dan melakukan perkara-perkara keji.

Cabaran luaran seperti perancangan penjajah dan salibiah dalam menjatuhkan umat Islam dengan hanya meletakkan segelas arak dengan wanita cantik cukup untuk melalaikan umat Islam. Manakala, adat meletakkan mas kahwin yang tinggi iaitu tidak mengikut cara Nabi telah menyukarkan kembali pihak lelaki dan akibatnya berlakulah perkara-perkara yang tidak diingini seperti penzinaan.

 

PENYELESAIAN TERHADAP CABARAN-CABARAN PEMBENTUKAN AKHLAK

Jika seseorang itu beriman, ia dapat memahami siapa penciptanya, tujuan dan peranan ia diciptakan, serta ke mana ia akan pergi. Kepentingan mengenali semua ini adalah untuk memahami tujuan peranan penciptaannya, justeru ia akan tahu menilai dirinya dan menjadikan potensi dirinya untuk melakukan kebaikan bukan kepada dirinya sahaja tetapi terhadap orang lain juga.

Manakala, ibadat pula menjadi banteng pertahanan untuk menangkis godaan syaitan serta hawa nafsu. Ibadah yang sempurna lahir dari iman yang mantap kepada Allah S. W. T.

Akhir sekali, ibu bapa adalah orang yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap anak. Anak adalah amanah Allah yang perlu dipikul oleh ibu bapa. Oleh itu, bimbingan dan didikan agama perlu diberikan agar anak-anak dapt menjadi seorang insan yang berjaya dari segi akhlaknya

 

KONSEP IBADAH DALAM ISLAM


 


Mukaddimah

Hidup manusia dibumi ini bukanlah suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukalah mereka boleh melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan tanggungjawab.

Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang menciptanya.
Tugas dan tanggungjawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas sebagaimana terkandung di dalam al-Quran iaitu tugas melaksanakan ibadah mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya.

Firman Allah swt. maksudnya: "Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku". (Az-Zaariyaat: 56)
Firman Allah swt. bermaksud: "Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebaha-gian (yang lain) beberapa darjat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu". (al-An'aam: 165)

Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia dan akhirat serta keredaan Allah.

Allah swt. telah menyediakan garis panduan yang lurus dan tepat kepada manusia dalam rangka pengurusan ini. Allah dengan rasa kasih sayang yang bersangatan kepada manusia diturunkannya para rasul dan bersamanya garis panduan yang diwhyukan dengan tujuan supaya manusia itu boleh mengurus diri mereka dengan pengurusan yang lebih sempurna dan bertujuan supaya manusia itu dapat hidup sejahtera dunia dan akhirat.

Pengertian Ibadah

Kalimat ibadah berasal daripada kalimat `abdun'. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu.
Dari segi istilah agama Islam pula ialah tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia berbentuk suruhan atau larangan.
Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah, iaitu nama bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt.

Perintah Allah dan Rasul-Nya ini hendaklah ditunaikan dengan perasaan penuh sedar, kasih dan cinta kepada Allah, bukan kerana terpaksa atau kerana yang lain dari cintakan kepada-Nya.

Para Nabi dan Rasul merupakan hamba Allah yang terbaik dan sentiasa melaksanakan ibadah dengan penuh kesempurnaan di mana setiap arahan Tuhannya, mereka patuhi dengan penuh perasaan cinta dan kasih serta mengharap keredaan dari Tuhannya. Mereka menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan sebagaimana yang dianjurkan oleh al-Quran itu sendiri.

Firman Allah swt. maksudnya: "Sesungghnya bagi mu, apa yang ada pada diri Rasulullah itu contoh yang paling baik". (al-Ahzab: 21)

Setengah ulamak mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud: "(Ia itu) Oran yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat". (Qaf: 33)

Orang yang memperhambakan dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada kehendak dan arahan Tuhannya, sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-lainnya. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata, tidak kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. pula kerana ia membawa Risalah Islam, cintakan kepada Rasulullah saw. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana firman Allah swt. maksudnya: "Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampunkan dosa- dosa kamu". (Al-Imran: 31)

Dan andainya kecintaan kamu kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih kepada yang lain; Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah meyimpang dari ketentuan-Nya. Firman Allah swt. maksudnya: "Katakanlah (Muhammad) jika ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara mara kamu, suami isteri kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbangkan kerugiannya, dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk agama Allah, maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik". (At-Taubah: 24)

Ruang lingkup Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan

Sebgaimana yang dijelaskan di atas nyatalah ibadah itu itu bukanlah sesempit apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan manusia yang tidak dapat memahami kesempurnaan Islam itu sendiri di mana pada anggapan mereka Islam itu hanya suatu perbicaraan pasal akhirat (mati) dan melakukan beberapa jenis ibadah persendirian tidak lebih dari itu. Begitu juga bila disebut ibadah apa yang tergambar hanyalah masjid, tikar sembahyang, puasa, surau, tahlil, membaca al-Quran, doa, zikir dan sebagainya iaitu kefahaman sempit disekitar ibadah-ibadah khusus dan ritual sahaja tidak lebih dari itu. Kefahaman seperti ini adalah akibat dari serangan fahaman Sekular yang telah berakar umbi ke dalam jiwa sebahagian dari kalangan orang-orang Islam.

Islam adalah suatu cara hidup yang lengkap dan sempurna, yang merangkumi semua bidang kehidupan dunia dan akhirat, di mana dunia merupakan tanaman atau ladang yang hasil serta keuntungannya akan dituai dan dinikmati pada hari akhirat kelak.
Ibadah dalam Islam meliputi semua urusan kehidupan yang mempunyai paduan yang erat dalam semua lapangan hidup dunia dan akhirat, tidak ada pemisahan antara kerja-kerja mencari kehidupan di muka bumi ini dan hubungannya dengan balasan akhirat. Islam mengajarkan kepada kita setiap apa juga amalan yang dilakukan oleh manusia ada nilai dan balasan sama ada pahala atau siksa. Inilah keindahan Islam yang disebut sebagai ad-Deen yang lengkap sebagai suatu sistem hidup yang boleh memberi kesejahteraan hidup penganutnya di dunia dan di akhirat.

Dengan kata lain setiap amalan atau pekerjaan yang membawa manfaat kepada individu dan masyarakat selama ia tidak bercanggah dengan syarak jika sekiranya ia memenuhi syarat-syaratnya, seperti dikerjakan dengan ikhlas kerana Allah semata-mata bukan kerana mencari kepentingan dan mencari nama serta ada niat mengharapkan balasan dari manusia atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia; maka amalan-amalan yang demikian akan mejadi ibadah yang diberi pahala di sisi Allah swt di akhirat kelak, insya'-Allah.

Berdasarkan kepada konsep ibadah tersebut maka setiap perbuatan pertolongan baik kepada orang lain seperti membantu orang sakit, tolong merengankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya, menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang jahil adalah ibadah.

Termasuk juga dalam makna ibadah ialah setiap perbuatan, perkataan manusia zahir dan batin yang disukai dan diredai oleh Allah swt. Bercakap benar, taat kepada ibu bapa, amanah, menepati janji, berakata benar, memenuhi hajat keperluan orang lain adalah iabadah.

Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala kejahatan, berjihad, memberi pertolongan kepada sesama manusia, dan kepada binatang, berdoa, puasa, sembahyang, membaca al-Quran semuanya itu juga adalah sebahagian dari ibadah.
Begitu juga termasuk dalam pengertian ibadah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima nikmat, reda terhadap qadha' dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan manusia yang termasuk dalam bidang ibadah.

Kesimpulannya ruanglingkup ibadah dalam Islam adalah terlalu terlalu luas yang merangkumi semua jenis amalan dan syiar Islam dari perkara yang sekecil-kecilnya seperti cara makan, minum dan masuk ketandas hinggalah kerja-kerja menguruskan kewangan dan pentadbiran negara semuanya adalah dalam makna dan pengertian ibadah dalam ertikata yang luas apabila semuanya itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya dengan menurut adab dan peraturan serta memenuhi syarat-syaratnya.

Hubungan Iman dan Amal

Iman bukanlah sekadar suatu keyakinan dan pembenaran dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tetapi iman yang hakiki dan sebenar ialah merangkumi pembenaran dan keyakinan di dalam hati, pengucapan di lidah serta melaksanakan amalan dengan anggota badan iaitu melakukan amalan soleh, maka dengan ini dapatlah difahami iman itu bukanlah sekadar ucapan lidah dan keyakinan dalam hati sahaja tetapi amalan merupakan sebagai bukti kesempurnaan, keteguhan dan kemantapan iman seseorang.

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam hubungan ini dengan katanya: "Iman itu ialah akidah, perkataan dan perbuatan". Dengan makna akidah itu sebagai membenarkan dan mepercayai dengan hati kepada segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (perkara yang mudah (dharuri) dari agama). Perkataan adalah sebagai ikrar dan pengakuan dengan lisan dan perbuatan adalah sebagai beramal melaksanakan segala perintah Allah dengan anggota (badan yang lahir).

Hadis Rasulullah saw. menguatkan adanya hubungan yang sangat erat di antara iman dan amal. dengan sabdanya sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw. maksudnya: "Iman itu lebih dari enam puluh cabang; yang paling tingginya La-Ilaaha-Illallaah dan dan yang paling rendahnya membuang sampah dari tengah jalan". (H.R.Bukhari)
Hadis ini menyatakan dengan jelas perbuatan membuang sampah sebagai sebahagian dari iman. Ini bermkna iman itu jelas bukan sekadar keyakinan dan kepercayaan dalam hati tetapi ia juga merangkumi amal atau perbuatan manusia.

Pembahagian Ibadah

Untuk memudahkan bahasan dan perbincangan kita berhubung dengan ibadah ini, ulamak-ulamak Islam membahagikan ibadah kepada dua bahagian sebagai berikut:

1. Ibadah khusus
2. Ibadah Umum

Ibadah khusus ialah semua amalan yang tercantum dalam bab al-Ibadaat yang utamanya ialah sembahyang, puasa, zakat dan haji.

Ibadah Umum pula ialah segala amalan dan segala perbuatan manusia serta gerak-geri dalam kegiatan hidup mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut:

1) Amalan yang dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam.
2) Amalan tersebut tidak bercanggah dengan syariat, tidak zalim, khianat dan sebagainya
3) Amalan tersebut dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt. tidak riak, ujub dan
sum'ah.
4) Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya
5) Ketika mengerjakan amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajipan ibadah khusus seperti sembahyang dan sebagainya.

Firman Allah swt. maksudnya: "Lelaki yang tidak dilalaikan mereka oleh perniagaan atau jual beli dari mengingati Allah, mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang". (An-Nur: 37)

Amalan-Amalan yang Tidak Menjadi Ibadah

Dilihat dari syarat-syarat di atas, nampaklah kepada kita bahawa sesuatu amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai kesempurnaan dalam makna ibadah dengan ertikata yang sebenar-benarnya mengikut syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas, oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya.

Dan kita hendaklah sentiasa meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri; dengan menyangka kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak demikian, kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah. Ini kerana kita melakukan amalan dan kerja-kerja kebajikan itu tidak menepati dan tidak selari dengan ketentuan dan syarat-syarat ibadah dan amal soleh yang dikehandkki itu.

Dari itu disamping kita melaksanakan segala amalan zahir dengan sempurna mengikut petunjuk dari Rasulullah saw. apa yang lebih penting lagi ialah kita membetulkan amalan batin iaitu amalan hati supaya betul iaitu niat dengan ikhlas, amalan itu semata-mata kerana Allah tidak kerana yang lain dari-Nya. Dan kita juga hendaklah sentiasa menjaga keikhlasan hati kita ini dari penyakit-penyakit yang boleh merusakannya seperti riak, ujub, sum'ah, takabur dan sebagainya.

Kesimpulan secara mudah ialah seorang lelaki yang memakai pakaian untuk menutup aurat dari kain sutra, dan perempuan yang berpakaian meliputi badannya tetapi masih menampakan susuk badannya masih lagi tidak dinamakan ibadah, atau seorang menderma dengan tujuan supaya dipuji dan digelar sebagai dermawan atau seorang yang rajin bersembahyang dengan niat tujuan supaya digelar sebagai ahli ibadah oleh manusia; itu semua tidak termasuk dalam makna ibadah yang diterima oleh Allah swt.
Dengan demikian jelaslah kepada kita segala amalan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas itu tidak dikira sebagai ibadah. Niat dan tujuan serta matlamat adalah sangat penting dalam sesuatu amalan di samping amalan tersebut tidak bercanggah serta diakui sah oleh syariat Islam.

Matalamat dan Tujuan Ibadah

Sebagaimana kita ketahui dan maklum bahawa pengutusan manusia ke dunia ini tidak lain melainkan untuk beribadah (memperhambakan diri) kepada al-Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta dan juga kita telah mengetahui bahawa pengertian ibadah dalam Islam merangkumi semua bidang amalan dalam kehidupan manusia.

Dan di sini timbul pertanyaan kenapa kita mengabdi menyembah Allah dan apakah matlamat ibadah itu ? Apakah ada faedah untuk-Nya atau apa faedah yang boleh didapati oleh seseorang hamba yang menyembah-Nya ?

Jawapannya ialah bahawa Allah swt. Yang Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mendapat sebarang faedah dari ketaatan orang yang menyembah-Nya dan tidak memberi mudarat sedikitpun dari keengganan orang yang menentang dan engkar kepada perintah-Nya.
Begitu juga tidak menambahkan kuasa keagungan pemerintahan-Nya oleh puji-pujian orang yang memuji-Nya dan tidak mengurangi keagungan kekuasaan-Nya oleh keengkaran orang-orang yang mengengkari perintah-Nya.

Ini kerana Allah Maha Kaya dan mempunyai segala-galanya kerana semua yang ada di alam ini menjadi milik-Nya belaka sedangkan kita manusia adalah satu dari makhluk Allah yang banyak itu, makhluk manusia ini terlalu kecil, hina dan miskin, serba kekurangan dan sentiasa berhajat dan memerlukan kepada-Nya.

Allah, Dialah Tuhan Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang serta bersifat Maha Memberi kepada semua makhuk-Nya dan Dia tidak menyuruh kita mengerjakan sesuatu melainkan perkara itu mendatangkan kebaikan bagi makhluk itu sendiri.
Firman Allah swt. maksudnya: "Sesungguhnya Kami telah kurniakan hikmat (ilmu pengetahuan) kepada Luqman supaya dia bersyukur kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur, sebenarnya dia bersyukur dagi faedah dirinya sendiri dan sesiapa yang ingkar, sesungghnya Allah Maha Kaya lagi Terpuji". (Luqman: 12)

Dari itu kita wajiblah mensyukuri segala nikmat dan kurniaan Allah swt. kepada kita semua yang mana sekiranya kita hendak menghitugnya sudah tentu kita tidak mampu untuk berbuat demikian, begitulah besar dan banyaknya pemberian Allah kepada kita semua sebagai makhluk-Nya.

Kelazatan Bermunajat dan Mentaati Allah

Kelazatan beribadah ini dapat digambarkan dari beberapa peristiwa yang berlaku kepada baginda Rasulullah saw. para sahabat, tabi'in dan para solihin, kelazatan ini akan timbul apabila adanya hubungan hamba dengan Tuhannya yang begitu erat dan di mana seorang hamba begitu gembira dan begitu senang memuji-muji kebesaran Allah swt. ini semua berlaku dari sebab makrifat-nya (kenalnya) seseorang hamba itu kepada
Tuhannya sehingga hamba itu merasa rindu apabila ia tidak dapat menghadap Tuhannya, dan merasa gelisah kerana tidak dapat bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. B begitu juga apabila seorang hamba mengalami sedikit kesusahan tentulah ia akan mengadu ketempat yang dapat menerima pengaduan dan boleh menyelesaikan masalah dan kesusahannya. Tiada tempat yang layak untuk berbuat demikian melainkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa.

Firman Allah swt. maksudnya:"Demi sesungguhnya Kami mengetahui bahawa engkau (Muhammad) bersusah hati dengan apa yang mereka katakan maka hendaklah engkau bertasbih memuji Tuhanmu serta jadilah dari golongan orang-orang yang sujud beribadah dan sembahlah Tuhanmu sehingga tiba kepadmu perkara yang tetap (iaitu mati)". (al-Hijr: 97-99)

Begitu juga di waktu orang-orang mukmin mendapat kurnia ia bersyukur seterusnya memuji kepada Allah swt. Firman Allah swt. maksudnya: "Bila datang pertolongan Allah dan kemenangan (pembukaan Makkah) dan engkau lihat manusia berduyun-duyun masuk agama Allah swt. maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia suka menerima taubat". (an-Nasr: 1-4)

Ibadah Hanya Untuk Allah

Pada hakikatnya pengabdian terhadap Allah swt. merupakan suatu kebebasan yang hakiki, jalan bagi mencapai kepada ketuannan yang sejati, kerana Allahlah yang boleh membebaskan hati nurani manusia dari perhambaan kepada sebarang makhluk dan memerdekakannya dari perhambaan dan kehinaan serta tunduk kepada yang lain dari Allah seperti tunduk kepada Tuhan-Tuhan palsu, berhala, manusia yang selalunya memperhamba dan mengongkong keyakinan manusia dengan sekuat-kuatnya miskipun pada lahirnya mereka bertindak seperti tuan yang bebas dan merdeka.

Perhambaan diri kepada Allah itu membebaskan manusia daripada perhambaan sesama makhluk kerana dalam hati manusia ada keperluan sejati kepada Allah, kepada Tuhan yang disembah yang mana dia bergantung kepadanya dan berusaha serta bekerja untuk mencapai keredaan-Nya. Jika yang disembah itu bukan Allah Yang Maha Esa tentulah manusia akan meraba-raba meyembah bermacam-macam Tuhan dari setiap objek benda dan khayalan yang ada dalam pemikiran dan yang berada di sekeliling mereka.

Tidak ada sesuatu pekerjaan yang paling mulia bagi manusia yang berakal selain dari beribadah menyembah Allah yang menciptanya dan menjadikan dirinya dengan sebaik-baiknya dan perkerjaan yang seburuk-buruknya kepada seorang manusia itu pula ialah menafi dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada Tuhan yang lain dari Allah swt.

Seorang hamba abdi yang taat kepada tuannya tentulah akan merasa senang dan gembira kerana ia tahu apa yang disukai oleh tuannya lalu disempurnakannya suruhan itu dengan segala senang hati dan disempurnakan dengan sebaik-baiknya. Manakala seorang hamba yang dimiliki oleh beberapa orang tuan selalu bertelingkah antara sesama mereka; yang satu menyuruh hamba itu melakukan sesuatu yang ditegah oleh yang lain, maka alangkah susah dan deritanya hamba tersebu itu untuk melakukan perintah-perintah Tuhan yang saling bertentangan perintahnya antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain.

Kalau orang yang menyembah selain dari Allah menjadi musyrik (kafir di- sebabkan ia melakukan perbuatan syirik), maka begitulah juga orang yang takabur menjadi musyrik (orang syirik), sebagaimana Firaun kerana kesombongan dan takaburnya, sebagaimana firman Allah swt. bermaksudnya: "Nabi Musa as. berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kamu daripada perbuatan orang yang takabur yang tidak percaya hari Perhitungan", demikianlah Allah meterikan setiap hati orang yang takabur lagi bermaharajalela". (al-A'raf: 27)

Kajian menunjukan bahawa semakin besar keangkuhan seseorang yang enggan tunduk dan patuh beribadah (mengabdi diri) kepada Allah, semakin besar kesyirikannya dengan Allah, Kerana menurut kebiasaannya semakin banyak takabur tidak mahu menyembah Allah semakin bertambahlah pergantungan manusia itu terhadap makhluk yang dicintainya yang menjadi pujaan utama bagi hatinya; yang demikian mereka akan menjadi musyrik dengan sebab menjadikan dirinya hamba (menyembah) kepada selain dari Allah swt.

Hati atau keyakinan manusia tidak akan terlepas dari perhambaan kepada makhluk kecuali mereka menjadikan Allah sebagai Tuhannya yang sebenar dan sejati, tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, tiada tempat bergantung dan meminta pertolongan melainkan dari-Nya, Tidak merasa gembira melainkan dengan apa yang disukai dan diredai-Nya, Tidak ia benci melainkan apa yang dibenci oleh Allah, tidak ia memusuhi kecuali orang yang Allah memusuhinya, tidak ia kasih melainkan kepada orang yang di kasihi oleh Allah, tidak ia memberi kecuali kerana Allah dan tidak ia melarang kecuali kerana Allah.

Semakin tulus keikhlasa seseorang itu kepada Allah maka semakin sempurnalah ubudiyahnya (perhambaanya) kepada Allah dan terlepas dari pergantungannya kepada sesama makhluk, dengan sempurna ubudiyahnya kepada Allah maka sempurnalah kesuciannya dari sifat syirik.

Tidak Harus Kepentingan Dunia Dijadikan Tujuan Ibadah

Samasekali tidak sesuai dengan tujuan Islam yang suci di mana tujuan atau kepentingan dunia menjadi matlamat dalam amalan atau ibadah seseorang, ataupun kepentingan dunia atau faedah-faedah dunia menjadi pendorong seseorang untuk melakukan printah ibadah kepada Allah swt.

Begitu juga kalau tujuan beramal dan beribadah kepada Allah swt. untuk mendapatkan kesucian jiwa dan dengan itu dapat mengembara ke alam arwah dan dapat melihat malaikat serta dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, mendapat keramat (kemuliaan) dan ilmu ladunni.

Semuanya ini disangkal oleh para ulamak dengan katanya: "Yang demikian adalah terkeluar daripada jalan ibadah, Ia merupakan ramalan kepada ilmu atau perkara ghaib, malah akan menjadi ibadah kepada Allah itu sebagai jalan menuju ke arah demikian yang mana pada akhirnya lebih hampir kepada meninggal ibadah."Orang-orang yang beribadah dengan maksud yang demikian termasuk di bawah pengertian ayat al-Quran yang maksudnya: "Sebahagian daripada manusia yang menyembah Allah secara tidak tetap, bila mendapat kebaikan dia teruskan dan bila terkena kesusahan dia berpaling tadah. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang amat nyata". (al-Hajj: 11)

Begitulah keadaan orang yang beribadah dengan tujuan mendapatkan faedah-faedah dunyawi jika sampai dan berhasil tujuan dan kehendaknya bergembiralah dia dan kuatlah tujuannya tetapi lemahlah ibadahnya jika tujuannya tidak berhasil dia meninggalkan ibadah itu.
Kesimpulan

Sebagaimana yang telah kita faham sebelum ini runglingkup ibadah itu adalah terlalu luas sebagaimana yang telah dijelaskan iaitu ibadah merupakan semua kegiatan hidup manusia itu sendiri yang sesuai dengan syariat Islam yang suci dan murni itu, oleh itu bolehlah difaham ibadah dalam Islam bermula sejak dari adab-adab masuk ketandas mengerjakan qadha' hajat hinggalah sampai kepada bagaimana cara mengurus kewangan dan mentadbir negara.

Kegiatan hidup manusia ini akan termasuk ke dalam makna ibadah yang diberi ganjaran dan pembalasan pahala baik di akhirat apabila ia menepati dengan kehendak syarak, tidak menyeleweng dari kehendak dan ketentuan Allah swt. dikerjakan mengikut peraturan dan syarat-syaratnya, disertai pula dengan niat yang betul dan ikhlas semata-mata dilakukan kerana mencari keredaan Allah swt. tidak kerana yang lain dari-Nya, menghindarkan diri dari perasaan riak, (menunjuk-nunjuk), ingin dipuji dan terkenal sebagai orang yang rajin, tekun, orang baik dan ingin disebut-sebut sebagai ahli ibadah oleh orang ramai dan juga suka berbangga dengan memberi tahu kepada orang lain akan amal kebajikannya. Ia juga hendaklah menghindarkan diri dari merasa bangga kerana ia telah banyak berbuat kebajikan dan berbuat amal ibadah.

Oleh itu ibadah dalam Islam bukanlah terhad kepada amalan-amalan ibadah yang ritual semata-mata seperti sembahyang, zikir, puasa, haji dan sebagainya yang disebut sebagai ibadah khusus, tetapi ibadah merangkumi, kerja-kerja kemasyarakatan dan sosial, mencari rezki, sahinggalah kepada mengurus dan mentadbir negara; semuanya itu akan menjadi ibadah sekiranya ia dilakukan menurut cara dan kehendak Islam serta niat dari hati yang ikhlas semata-mata kerana Allah swt.